Umat Jangan Tersesat

Kesesatan, sesungguhnya sudah menjadi salah satu dari tiga pilihan hidup manusia. Pilihan pertama adalah berusaha untuk selalu berada di jalan kebenaran, apapun resikonya. Kedua, menyimpang dari jalan kebenaran yang sudah diketahui dan dimengerti, karena bujuk rayu syahwat. Ketiga, tersesat dari jalan kebenaran karena tidak memperdulikan ilmu tentang kebenaran, dari sumber yang absolut: Al-Quran dan Al-Hadits. Karena itulah, maka Allah mewajibkan kita mengumandangkan doa minimal 17 kali sehari semalam,
“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus; jalan orang-orang yang Engkau anugerahi kenikmatan kepada mereka; bukan jalan-jalan orang-orang yang termurkai; bukan pula jalan orang-orang yang tersesat…” (Al-Fatihah : 6-7)

Apa memang betul kesesatan itu adalah pilihan? Ya. Benar, bahwa kebanyakan orang yang tersesat itu nyaris tak pernah menyadari bahwa mereka berada dalam kesesatan. Karena kalau mereka betul-betul menyadarinya, mereka tak akan tersesat. Tapi asal muasal dari kesesatan itu adalah berasal dari diri mereka sendiri. Kaum Nashrani yang menjadi contoh klasik umat yang tersesat, sesungguhnya memulai kesesatan itu dengan pilihan mereka sendiri. Demikian juga kalangan radikal sufi, yang tenggelam dalam banyak bentuk ibadah yang tidak pernah diajarkan dalam Islam, mereka tersesat, karena pilihan mereka sendiri. Yakni bahwa mereka enggan mempelajari ilmu dari sumber aslinya, Al-Quran dan Al-Hadits, lalu menuhankan perasaan dan kehendak hati mereka dalam melakukan ibadah. Mereka pun terbuai oleh tipu daya setan. Mereka begitu gigih beribadah, namun tanpa sadar mereka sedang berada dalam kesesatan-kesesatan yang nyata.

Oleh sebab itu, kunci dari keselamatan diri atau pembebasan diri dari segala bentuk kesesatan, sesungguhnya sudah terungkap simpel dan gamblang, pada hadits Nabi n,
“Aku tinggalkan pada kalian dua hal, yang akan membuat kalian tak akan tersesat selama kalian berpegang teguh pada keduanya: Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam (hadits)…. ”

Fenomena Meresahkan
Baru-baru ini –dan sesungguhnya gak baru-baru amat– menggelinding sebuah fenomena –klasik kontemporer—yang sangat meresahkan umat, munculnya aliran-aliran keagamaan yang dianggap sesat.

Tentu, geliat kebangkitan generasi Islam merasa tergugat, semangat yang kini mulai muncul di berbagai lapisan –hingga kalangan legislatif dan terlebih selebritis–, untuk mulai memperbaiki diri dan mencari kebenaran Islam, kembali menghadapi tekanan hebat. Payahnya, tekannya itu –secara eksplisit—ternyata bukan berasal dari orang-orang di luar Islam, tapi dari tubuh umat Islam sendiri. Muncul sosok-sosok setengah bego namun cerdik dan licik, yang mengusung pemahaman-pemahaman baru dalam Islam, melalui klaim sebagai nabi baru, sebagai Jibril, titisan Isa Al-Masih, Imam Mahdi, atau klaim-klaim sejenis yang sudah jelas-jelas ketahuan boongnya bagi mereka yang masih berpikiran sehat, namun tetap berisi propaganda yang bukan saja menyesatkan tapi juga amat merugikan umat Islam. Kerugian itu, setidaknya pada dua hal:

Pertama, pembodohan umat, yang meskipun tak terlalu merisaukan dari sisi kwantitas dan kwalitas penyesatannya, tapi sungguh tetap merepotkan barisan para juru dakwah yang sedang melakukan pembenaran dan pengoreksian di tengah umat.

Kedua, menimbulkan image buruk pada diri umat Islam, dan menciptakan citra negatif terhadap ajaran Islam, terutama di mata kalangan non muslim. Mengapa agama yang katanya paling benar, tapi begitu mudah disusupi oleh aliran-aliran sesat?

Sebagian umat Islam boleh saja menyanggah dengan membaliktuduhan bahwa itu bisa saja berasal dari kalangan non muslim. Tapi ingat, Allah sudah berpesan,
” Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya…” (Al-Israa : 36)

Benar, bahwa kalangan Yahudi dan Nashrani tak pernah berhenti menyesatkan umat Islam. Tapi tuduhan secara serampangan bahwa aliran-aliran itu adalah karya cipta mereka, justru memperlemah kewaspadaan umat Islam terhadap bahaya laten di tubuh umat Islam sendiri.

Karena, nabi sudah memperingatkan hal itu jauh-jauh hari sebelumnya,
“(Akan muncul suatu saat nanti) Para dai yang mengajak ke pintu-pintu Neraka, barang siapa yang menyambut ajakannya, pasti akan tercampak ke dalam Neraka..” Mereka berasal dari bangsa kita dan berbicara dengan bahasa kita .”

Fatwa MUI
Majelis Ulama Indoneis mengeluarkan fatwa Sepuluh Kriteria Aliran Sesat:
1. Mengingkari rukun iman dan rukun Islam.
2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan as-sunah).
3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Quran.
4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al-Quran.
5. Melakukan penafsiran Al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir
6. Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam.
7. Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
8. Mengingkari Nabi Muhammad n sebagai nabi dan rasul terakhir.
9. Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah.
10. Memvonis kafir sesama Muslim tanpa dalil syar’i.

Saya memandang, sepuluh kriteria tersebut ditetapkan berdasarkan telaah terhadap kaidah-kaidah keyakinan dan pemahaman Islam seperti yang diyakini oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallamdan para Sahabat, dengan ungkapan lain: sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah Wal Jama’ah. Meski masing-masing poinnya membutuhkan penjabaran sangat luas, dan sisi kesesatannya bisa saja berkembang menjadi belasan, puluhan bahkan ratusan macam lagi, tapi 10 kriteria itu saya pandang sudah cukup untuk sekadar menggambarkan secara global dasar-dasar kesesatan yang sering dimiliki, diisyukan dan dipropagandakan oleh para penganut aliran sesat, yang akhir-akhir ini banyak muncul dan menimbulkan keresahan hebat di tengah umat.

Sepuluh Kriteria itu sudah cukup mewakili beberapa persoalan terpenting dari aqidah keislaman dan pokok-pokok ajaran Islam yang bila dilanggar, akan menjerumuskan pelakunya ke lembah kekafiran.

Langkah-Langkah Taktis
Ada beberapa langkah taktis yang seharusnya secara mufakat dilakukan oleh para juru dakwah, terutama sekali yang telah membekali diri dengan aqidah yang lurus, serta metoda pemahaman Islam yang benar, agar pelaksanaan dakwah Islam semakin mudah, upaya pembekalan umat dengan aqidah yang benar menjadi semakin terarah, dan usaha membentengi umat dari penyesatan juga bisa dilakukan seoptimal mungkin.

Pertama, mempertegas prioritas dakwah pada pengajaran dan pembinaan aqidah, agar umat semakin cerdas secara keagamaan, dan aman dari upaya penyesatan.

Kedua, mengajarkan kepada umat ibadah-ibadah praktis yang langsung dapat mereka praktikkan, secara benar dan berdasarkan dalil-dalil yang jelas. Semua itu diajarkan, dan dalil-dalil itu disampaikan, meskipun sebagian besar mereka hanya akan dapat memahami tanpa menghapalnya. Tapi itu sudah cukup, untuk membantu proses pendewasaan umat, dan agar setiap mereka tahu bahwa ibadah dalam Islam harus punya dalil yang jelas.

Ketiga, mengajarkan kepada umat tafsir ringkas dan sederhana, terutama ayat-ayat dan surat-surat yang sudah akrab di telinga masyarakat awam. Selain itu juga mengajarkan kepada mereka pelajaran yang bermuatan hadits-hadits sederhana. Tujuannya, agar umat semakin mengerti, bahwa panduan Islam berupa Al-Quran dan Al-Hadits itu untuk dipelajari, bukan sekadar diakui saja.

Keempat, agresifitas para juru dakwah, untuk mendatangi umat, membimbing mereka secara mudah dan langsung, sehingga rasa dahaga terhadap siraman ajaran Islam mereka dapat terpuaskan, tanpa mereka tergiur untuk mencicipi ajaran-ajaran baru yang menyesatkan.

Kelima, memberantas atau minimal mengurangi seoptimal mungkin bentuk-bentuk komersialisasi dakwah, yang sekarang ini sudah begitu menjamur. Terutama sekali kebiasaan yang mengubah dakwah menjadi sebuah professi yang secara serius digeluti lebih untuk mencari keuntungan materi, ketimbang penyebaran dakwah. Para juru dakwah harus serius membina dan mengajarkan ilmu kepada masyarakat –sebisa mungkin– secara Cuma-Cuma. Karena terbukti, sebagian di antara komunitas penganut ajaran sesat, memberi ruang bagi para penganutnya untuk menciptakan suasana yang sangat harmonis, di mana mereka bisa saling membantu dan menolong sesama anggota jama’ah. Meski tidak sedikit pula jama’ah sesat yang justru bertujuan untuk mengeruk keuntungan, tapi keberadaan banyak jama’ah sesat yang menjanjikan perubahan kondisi ekonomi jama’ahnya, menjadi tantangan bagi para juru dakwah kebenaran untuk harus lebih ikhlas dalam berdakwah. (Ust. Abu Umar Basyir)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: