Ajal itu Bernama Kematian

Jum, Mei, 2008

 

Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?

 

Semua Pasti Mati

 

Seperti yang tercantum dalam ayat “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57) tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.

 

Sungguh Allah Maha Kuasa

 

Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.

 

 

 

 

Renungilah!

 

Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati. Allah menjelaskan dalam Quran tentang perilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)

 

Kehidupan Dunia Telah Melalaikan Kita

 

Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan kematian. Mereka berpikir di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!

 

Mengapa Hati ini Mengeras?

 

Tidaklah mengherankan jika seringkali kita merasakan bahwa hati ini mengeras, membaca ayat-ayat Al Qur’an hati ini tidak tergetar, mendengar nasihat-nasihat para ulama kalbu ini tidak luluh. Padahal Allah telah menyifati orang yang beriman dalam firman-Nya:

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka“. Al Anfal: 2.

 

Tangisan Iman

 

Sebenarnya bagaimanakah kondisi neraka hingga para sahabat Nabi menangis sesenggukan tatkala mengingatnya?

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Nabi menggambarkan keadaan adzab yang paling ringan di neraka:

Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang mengenakan sepasang sandal dari api, yang dengan sebabnya otaknya mendidih, sebagaimana mendidihnya air di dalam bejana. Dia mengira bahwa tidak ada satupun penghuni neraka yang lebih keras adzabnya darinya. Padahal ia adalah orang yang yang paling ringan adzabnya.”HR. Buhari dan Muslim.

Apa makanan dan minuman penghuni neraka? Allah berfirman,

Artinya: “Mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong motong ususnya“. Muhammad: 15.

Apakah tatkala usus mereka terputus-putus mereka langsung mati? Ya, tapi akan dihidupkan kembali, padahal satu hari di neraka sama dengan seribu tahun di dunia. Allah Ta’ala berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya satu hari disisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” Al Hajj: 47.

Meskipun siksaan Allah di hari akhir amatlah keras, tetapi dengan kasih sayang-Nya, Dia memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para hamba yang bergelimang dosa untuk menyucikan dirinya dari kotoran dosa-dosa di dunia ini, sehingga tatkala dia menghadap ke hadirat Allah kelak, dia akan menghadap dalam keadaan suci bersih dari noda-noda dosa, sama sekali tidak disiksa di api neraka, bahkan dia akan masuk ke surga dengan penuh kedamaian. (Maula)

Sebab Lemahnya Kaum Muslimin

Kam, Mei, 2008

Kaum muslimin, yang semoga dirahmati Allah. Keadaan umat Islam saat ini begitu memprihatinkan. Di hadapan musuh-musuh mereka, umat ini terus mengalami kekalahan, ketertinggalan dan penindasan. Negeri-negeri kaum muslimin dirampas begitu saja oleh musuh-musuh mereka. Dalam tubuh umat islam sendiri, mereka saling berselisih dan berpecah belah. Apa sebab lemahnya kaum muslimin saat ini dan bagaimana pemecahan masalah tersebut?

Tulisan di bawah ini akan memberikan penjelasan tentang sebab utama kemunduran dan kelemahan umat Islam saat ini yang disarikan (dengan sedikit tambahan) dari tulisan Syaikh Abdul Aziz bin Baz -seorang ulama besar/mufti di Saudi Arabia- yang berjudul Asbabu Dho’fil Muslimin Amama ‘Aduwwihim Wal ‘Ilaaju Lidzalik. Semoga Allah merahmati beliau dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi umat untuk memperbaiki keadaan mereka saat ini.

Penyakit yang Menimpa Umat Islam Saat Ini

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah. Perlu diketahui bahwa sebab kelemahan, ketertinggalan, dan kekalahan kaum muslimin saat ini di hadapan musuh mereka, semuanya kembali pada satu sebab yang akan bercabang ke sebab yang lain. Sebab utama tersebut adalah kebodohan yaitu jahil (bodoh) terhadap Allah, agama-Nya dan berbagai hukum syar’i. Ilmu agama semacam ini telah banyak ditinggalkan oleh umat saat ini. Ilmu ini sangat sedikit dipelajari, sedangkan kebodohan malah semakin merajalela.

Kebodohan merupakan penyakit yang mematikan, dapat mematikan hati dan perasaan, juga melemahkan anggota badan dan kekuatan. Pengidap penyakit ini bagaikan hewan ternak, hanya menyukai syahwat, farji (kemaluan) dan perut. Kebodohan sungguh telah melemahkan hati, perasaan, dan keyakinan kaum muslimin dan akan menjalar ke anggota tubuh mereka yang lain yang membuat mereka lemah di hadapan musuh mereka (Yahudi dan Nashrani).

Mengapa Penyakit Utama Lemahnya Kaum Muslimin adalah Kebodohan?!

Yang menunjukkan bahwa sebab terbesar adalah jahl (bodoh) terhadap Allah, agama-Nya, dan syari’at-Nya -yang seharusnya seseorang berpegang teguh dan mengilmui tiga hal tersebut- yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan, Allah akan memahamkannya dalam perkara agama.” (HR. Bukhari & Muslim).

Maka dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, menunjukkan bahwa di antara tanda Allah akan memberikan kebaikan dan kebahagiaan bagi individu, bangsa, negara yaitu Allah akan memahamkan mereka ilmu din (agama). Berarti dengan memahami agama ini dengan mengenal Allah, Rasul-Nya, dan Syari’at-Nya, individu maupun bangsa akan diberikan oleh Allah berbagai bentuk kebaikan. Dan bodoh tentang hal ini akan membuat kaum muslimin jauh dari kebaikan, sehingga membuat mereka lemah di hadapan musuh mereka.

Di samping itu al-Qur’an juga mencela kebodohan dan orang-orang yang bodoh dan memerintahkan mewaspadainya. Seperti dalam firman Allah ta’ala yang artinya, “Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al An’am: 111). Juga firman Allah yang artinya, “Dan kebanyakan mereka tidak mengerti” (QS. Al Ma’idah: 103)

Penyakit Cinta Dunia dan Takut Mati

Sebab lain yang menyebabkan kaum muslimin lemah dan tertinggal dari musuh-musuh mereka adalah cinta dunia dan takut mati. Sebab ini muncul karena sebab utama di atas yaitu bodoh terhadap agama Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya, “Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata, “Bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian adalah sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ‘Wahn’. Kemudian seseorang bertanya, “Apa itu ‘wahn’?” Rasulullah berkata, “Cinta dunia dan takut mati.” (Shohih, HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dalam hadits ini terlihat bahwa penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) akan menimpa dan berada dalam hati-hati mereka. Mereka tidak mampu untuk menggapai kedudukan yang mulia dan tidak mampu pula untuk berjihad fii sabilillah serta menegakkan kalimat Allah. Hal ini disebabkan kecintaan mereka pada dunia dan kesenangan di dalamnya seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan selainnya. Mereka begitu bersemangat mendapatkan kesenangan seperti ini dan takut kehilangannya, sehingga mereka meninggalkan jihad fii sabilillah. Begitu juga mereka menjadi bahil (kikir) sehingga mereka enggan untuk membelanjakan harta mereka kecuali untuk mendapatkan berbagai kesenangan di atas.

Penyakit wahn ini telah merasuk dalam hati kaum muslimin kecuali bagi yang Allah kehendaki dan ini jumlahnya sedikit sekali. Kaum muslimin secara umum telah menjadi lemah di hadapan musuh mereka. Rasa takut telah hilang dari hati musuh mereka sehingga mereka tidak merasa takut dan khawatir terhadap kaum muslim karena mereka telah mengetahui kelemahan kaum muslimin saat ini. Semua hal ini terjadi disebabkan kebodohan yang menyebabkan rasa tamak kaum muslimin pada dunia sehingga kaum kafir (musuh kaum muslimin) menggerogoti mereka dari segala penjuru walaupun jumlah mereka banyak tetapi jumlah ini hanya bagaikan sampah-sampah yang dibawa air hujan yang tidak bernilai apa-apa.

Obat Mujarab untuk Menyembuhkan Penyakit yang Menimpa Kaum Muslimin

Setelah mengetahui berbagai penyakit yang menyebabkan kaum muslimin menjadi lemah di hadapan kaum kafir (Yahudi dan Nashrani) yang disebabkan kebodohan sebagai sebab utama. Maka obat mujarab untuk mengobati penyakit ini, tidak lain dan tidak bukan kecuali menuntut ilmu dan memahami agama ini. Dengan melakukan hal ini mereka akan mendahulukan ridha Allah daripada murka-Nya, bersegera dalam melakukan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya serta segera bertaubat dari dosa yang telah dilakukan pada masa lampau. Dengan hal ini pula mereka akan segera melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi musuh mereka sebagaimana yang Allah perintahkan pada firman-Nya yang artinya, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. (QS. Al Anfaal: 60). Allah memerintahkan dalam ayat ini untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi musuh sesuai dengan kemampuan kaum muslimin. Allah tidak memerintahkan kaum muslimin untuk mempunyai perlengkapan yang sama kuatnya dengan musuh mereka.

Tolonglah Agama Allah, Niscaya Allah akan Menolongmu

Apabila kaum muslimin menghadapi musuh mereka sesuai dengan kemampuan mereka dalam rangka menolong agama Allah, maka Allah akan menolong mereka dan akan menjadikan mereka unggul di atas musuh mereka (dan bukan ditindas oleh musuh). Allah yang Maha Memenuhi Janjinya telah berfirman yang artinya, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7). Dan Allah tidaklah lemah untuk menolong hamba-Nya, akan tetapi Allah menguji di antara mereka dengan kejelekan agar diketahui siapa yang jujur atau dusta. Allah Maha Mampu untuk menolong wali-Nya dan untuk menghancurkan musuh-Nya tanpa perang, jihad, atau tanpa menyiapkan persenjataan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Demikianlah apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain”. (QS. Muhammad: 4)

Tatkala perang badar kaum muslimin pada saat itu hanya berjumlah 310-an. Persenjataan dan tunggangan pun sedikit (hanya ada 70 unta dan 2 kuda). Sedangkan pasukan kafir (musuh kaum muslimin) berjumlah sekitar seribu pasukan dan memiliki kekuatan yang besar serta persenjataan yang lengkap. Namun, jumlah, senjata dan kekuatan orang kafir ini tidak bermanfaat bagi mereka. Allah mengalahkan musuh yang memiliki kekuatan besar tersebut yang Allah kisahkan dalam firman-Nya yang artinya, “Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 126). Pertolongan tersebut dari sisi Allah, akan tetapi Allah menjadikan pertolongan tersebut dari para malaikat. Persenjataan, harta, dan bala bantuan yang Allah berikan ini merupakan sebab pertolongan, kabar gembira, dan ketenangan yang Allah berikan.

Menolong Agama Allah adalah dengan Melakukan Amal Shalih

Menolong agama Allah adalah dengan melakukan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar.”(Al Hajj: 40-41).

Dari ayat ini terlihat jelas bahwa sebab terbesar datangnya pertolongan Allah adalah dengan menaati Allah dan Rasul-Nya. Di antara bentuk menaati Allah dan Rasul-Nya adalah dengan mempelajari dan memahami agama ini.

Dari tulisan ini jelaslah sebab lemahnya kaum muslimin yaitu keengganan untuk mempelajari agama ini dan keengganan untuk melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jika memang penguasa kaum muslimin dan para ulama betul-betul jujur dalam berdakwah, hendaklah mereka mengajak umat untuk melakukan berbagai bentuk amal shalih yaitu menegakkan shalat, menunaikan zakat, beramar ma’ruf nahi mungkar, dan hendaklah mereka mengajak umat Islam untuk mempelajari dan memahami agama agar mereka dapat mengenal Allah, Nabi-Nya, dan syari’at agama yang mulia ini.

Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin saat ini dan memperbaiki ulil amri (penguasa dan ulama). Semoga Allah memberikan kaum muslimin bashiroh (ilmu dan keyakinan). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Shalawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.

***

Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar, S.S

Nasihat Syaikh Abdul Aziz Ibn Baaz rahimahullah

Ming, Mei, 2008

qubaa 

Ditulis Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَمَّا بَعْدُ :

Sesungguhnya tidak diragukan lagi oleh setiap manusia yang berakal, bahwa suatu umat harus memiliki pembimbing yang menuntunnya menuju kebenaran. Dan umat Muhammad merupakan umat terbaik, umat yang paling berhak untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar dan menyeru kepada kebaikan, untuk mengikuti panutan mereka, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini menjadi penyebab kebahagiaan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, setiap muslim wajib menyiapkan diri untuk memberikan nasihat, pengarahan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, dia terbebas dari kewajiban, sedangkan orang lain bisa mendapatkan petunjuk dengan perantaraannya. Allah berfirman :

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ (٥٥)

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa’at bagi orang-orang yang beriman. (QS adz-Dzariyat/51:55)
Sesuatu yang pasti, bahwa setiap manusia sangat membutuhkan peringatan tentang hak Allah, hak hamba dan motivasi untuk melaksanakan semua hak-hak tersebut. Setiap manusia membutuhkan untuk saling nasihat-menasihati dengan kebenaran dan
al haq. Allah telah menjelaskan dalam kitab-Nya tentang sifat orang-orang yang beruntung dan amal perbuatan mereka yang terpuji. Allah juga memberitahukan sifat orang-orang yang merugi beserta penjelasan tentang amal perbuatan mereka yang tercela.

Penjelasan ini banyak didapatkan dalam ayat-ayat al Qur`an. Yang paling lengkap, yaitu penjelasan Allah Ta’ala dalam surat al ‘Ashr.
Allah Ta’ala :

وَالْعَصْرِ (١)إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢)إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat- menasihati supaya mentaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS al ‘Ashr/103: 1-3)

Dalam surat yang pendek ini, Allah telah menjelaskan kepada para hamba-Nya tentang sebab-sebab keberuntungan. Sebab-sebab itu terangkum dalam empat point, yaitu: Pertama, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kedua, beramal shalih. Ketiga, saling memberi nasihat dengan kebenaran. Keempat, saling memberi nasihat dengan kesabaran.

Barangsiapa memiliki empat faktor ini dengan sempurna, maka dia akan mendapatkan keberuntungan yang amat besar, berhak mendapatkan kemuliaan dari Allah Ta’ala. Dan pada hari Kiamat, dia mendapatkan kenikmatan abadi. Sebaliknya, orang yag menentang sifat-sifat ini dan tidak mau berakhlak dengannya, maka dia sangat merugi dan tempat kembalinya ialah neraka Jahim.

Allah Ta’ala telah menjelaskan sifat orang-orang beruntung dalam kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala menjelaskan macam-macamnya. Dan penjelasan-Nya diulang beberapa kali di pelbagai tempat dalam al Qur`an, supaya bisa diketahui oleh orang yang ingin selamat; lalu ia bisa berakhlak dan mendakwahkannya.

Allah Tabaraka wa Ta’ala juga telah menjelaskan sifat orang-orang yang merugi dalam banyak ayat, agar sifat-sifat itu diketahui oleh kaum Mukminin, (yang) selanjutnya dijauhi. Siapa saja yang merenungkan al Qur`an dan sering membacanya, dia akan bisa mengetahui secara detail sifat orang-orang yang beruntung dan merugi. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam banyak ayat, di antaranya adalah ayat di atas. Di antaranya juga firman Allah ‘Azza wa jalla :

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal shalih, bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (QS al Isra`/17:9).

Firman Allah Ta’ala :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ (٢٩)

Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran bisa mendapatkan pelajaran. (QS Shad/38 : 29).

Firman Allah Ta’ala :

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (١٥٥)

Dan al Qur`an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat, (QS al An’am/6:155).

Terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Orang yang terbaik di antara kalian, yaitu orang yang mempelajari dan mengajarkan al Qur`an.

Dalam khutbahnya di hadapan para pemimpin syuhada’ pada hari ‘Arafah saat haji Wada`, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمْ مَا لَمْ تَضِلُّوا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللهِ

Aku tinggalkan sesuatu di tengah-tengah kalian; kalian tidak akan tersesat, selama kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitab Allah.

Dalam ayat-ayat di atas, Allah Ta’ala menjelaskan tujuan diturunkannya al Qur`an. Yaitu supaya para hamba merenungi, mempelajari, mengikutinya dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menempuh faktor-faktor kebahagiaan, kemuliaan dan keselamatan dunia dan akhirat. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan petunjuk agar para hamba mempelajari dan mengajarkan al Qur`an. Rasulullah menjelaskan, orang terbaik ialah Ahlul Qur`an. Maksudnya, orang yang mempelajari dan mengajarkan al Qur`an kepada orang lain untuk diamalkan, diikuti, berhukum dengannya, dan tidak melanggar batasan-batasannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan di hadapan khalayak pada hari ‘Arafah. Bahwasanya mereka tidak akan tersesat, selama berpegang dengan Kitab Allah dan berjalan di atas syari’atnya. Saat para salafush-shalih; generasi awal umat ini istiqamah di atas tuntunan al Qur`an dan mengikuti perihidup Rasulullah, maka Allah memberikan kemulian kepada mereka, mengangkat derajat mereka dan memberikan kekuasaan kepada mereka di muka bumi. (Yakni) sebagai bukti dari janji Allah dalam firman-Nya, yang artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. (QS an-Nur/24:55).
Dan firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (٧)

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad/47:7).
Firman Allah Ta’ala :

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (٤٠)الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ (٤١)

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya; Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa; (Yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS al Hajj/22 : 40-41)
Wahai, kaum Muslimin!
Renungilah kitab Rabb kalian! Seringlah membacanya! Laksanakan perintah-perintah yang ada padanya, dan jauhilah larangan-larangan yang tertera di dalamnya! Kenalilah akhlak-akhlak dan amal perbuatan yang dipuji oleh al Qur`an. Bergegaslah untuk melaksanakannya, dan hiasilah diri kalian dengan akhlak tersebut!

Kenalilah akhlak-akhlak dan amal perbuatan yang dicela al Qur`an; dan pelakunya diancam (dengan ancaman siksa, Red.). Waspadailah dan jauhilah!

Saling nasihat-menasihatilah di antara kalian, serta bersabarlah sampai kematianmu. Dengan melaksanakan semua itu, berarti kalian berhak mendapatkan kemuliaan dari Allah Ta’ala , mendapatkan keselamatan, kebahagiaan dan kejayaan di dunia dan akhirat.

Di antara kewajiban yang terpenting bagi seorang muslim, yaitu kewajiban memperhatikan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berusaha memahaminya dan berjalan di atasnya. Karena Sunnah merupakan wahyu kedua, penjelas bagi al Qur`an Kitabullah, dan menunjukkan makna yang terkadang belum difahami. Sebagaimana firman Allah dalam al Qur`an:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ </span>(٤٤)

Dan Kami turunkan kepadamu al Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan, (QS an-Nahl/16 : 44)
Firman Allah Ta’ala :

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (٨٩)

Dan Kami turunkan kepadamu al Kitab (al Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu, petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri. (QS an-Nahl/16 : 89).
Firman Allah Ta’ala :

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al Kitab (al Qur`an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS an-Nahl/16 : 64)
Allah berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. (QS al Ahzab/33 : 21)
Allah berfirman :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. (QS an-Nur/24 : 63)

Ayat-ayat yang menunjukkan kewajiban mengikuti Sunnah, mengagungkannya, berpegang teguh dengannya, peringatan agar tidak menyimpang darinya atau meremehkannya, sangatlah banyak. Ayat-ayat ini bisa diketahui oleh orang-orang yang merenungi al Qur`an dan memahami hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada kebaikan, kebahagiaan, kejayaan, kemuliaan, keselamatan dunia dan akhirat bagi seorang hamba, kecuali dengan mengikuti, mengagungkan dan saling berwasiat dengan al Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala keadaan, serta bersabar dalam melakukan hal itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala , yang artinya: Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (QS al Anfal/8 : 24).
Firman Allah Ta’ala:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٩٧)

Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS an-Nahl/16 : 97)
Firman Allah Ta’ala :

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَعْلَمُونَ (٨)

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS al Munafiqun/63 : 8)

Dalam ayat-ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala memberikan petunjuk bahwa kehidupan yang baik, tenang serta kejayaan hakiki, hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang menjawab seruan Allah dan Rasul-Nya lalu (mereka) beristiqamah, baik dengan tutur kata maupun dengan amalan nyata. Sedangkan orang-orang yang berpaling dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, disibukkan dengan yang lain, maka dia senantiasa menderita, gelisah dan kehidupan yang susah, meskipun memiliki dunia seluruhnya. Kemudian dia akan pindah ke adzab yang lebih menakutkan yaitu adzab neraka. Iyadzan billah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala , yang artinya: Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima nafkah-nafkah mereka, melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya; dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas; dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia, dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS at-Taubah/9 : 54-55)
Firman Allah Ta’ala :

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى (١٢٣)وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤)

Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS Thaha/20 : 123-124)
Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (١٣)وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ (١٤)

Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti, benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. (QS al Infithar/82 : 13-14)

Sebagian ahli tafsir mengatakan, sesungguhnya ayat ini umum yaitu meliputi keadaan abrar (orang-orang yang sering melakukan kebaikan) dan fujjar (orang-orang yang sering melakukan keburukan), di dunia dan akhirat.

Seorang mukmin akan berada dalam kenikmatan ketika di dunia, kubur dan akhirat, meskipun di dunia dia tertimpa berbagai macam musibah, seperti: miskin, sakit dan lain sebagainya. Sedangkan orang fajir, akan tetap dalam jahim (maksudnya, tetap dalam penderitaan) di dunia, kubur dan akhirat, meskipun dia sudah berhasil menggapai berbagai kenikmatan dunia. (yang semu, Pent.)

Namun itu semua bukanlah kenikmatan hakiki; karena kenikmatan hakiki ialah kesenangan dan ketenangan hati. Seorang mukmin itu dadanya lapang, hati dan perasaannya tenang disebabkan karena keimannya kepada Allah, tawakkalnya, ketaatannya dan keyakinannya terhadap kebenaran janji Allah Ta’ala.

Sebaliknya orang fajir, disebabkan karena hatinya yang sakit, kebodohannya, keragu-raguannya, berpalingnya dari Allah Ta’ala , hatinya terpecah dengan pernik-pernik dunia dan syahwat, maka dia akan selalu menderita, gelisah dan kelesuan. Akan tetapi, gejolak hawa nafsu dan syahwat, mengakibatkan akalnya menjadi tertutup, tidak bisa memikirkan dan tidak bisa merasakannya.

Wahai kaum muslimin!

Sadarilah tujuan asasi kalian diciptakan. Yaitu untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dan mentaati-Nya! Pahamilah, dan istiqamahlah di atas jalan itu sampai datang kematianmu. Dengan demikian, kalian akan beruntung dengan mendapatkan kenikmatan abadi dan terhindar dari Neraka Jahim.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Fusshilat/41: 30-32)
Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (١٣)أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٤)

Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS al Ahqaf/46 : 13-14)

Akhirnya, hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon, supaya kami dan seluruh kaum Muslimin dijadikan sebagai bagian dari mereka yang disebutkan dalam ayat di atas, dan melindungi kita dari keburukan jiwa-jiwa dan amal perbuatan kita. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(Diangkat dari Mukhtarat min Kitab Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah, halaman 496-501)