Satu Pemahaman Umat Bersatu

 

Ketahuilah wahai kaum muslimin , bahwa sebaik-baik nikmat yang dikaruniakan Alloh kepada hamba-Nya adalah hidayah kepada Islam, yaitu iltizam dan istiqomah di atas hukum-hukum Alloh dan rosul-Nya. Alloh mengisahkan ahli surga yang bergembira dengan segala nikmat-Nya:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

dan mereka berkata:”Segala puji bagi Alloh yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Alloh tidak memberi kami petunjuk…”(QS. Al-A’rof [7]:43)

Kemudian nikmat tersebut bagi kebanyakan umat yang datang belakangan adalah kurang. Nikmat Islam bagi kebanyakan kaum muslimin zaman sekarang hanya tinggal namanya saja. Nabi kita Muhammad Rosululloh tinggal namanya. Karena kebanyakan umat Islam tidak paham apa yang dimaksud dengan Islam. Mereka mencintai Rosululloh akan tetapi mereka tidak memahami ajaran beliau. Mereka mengagungkan Rosululloh akan tetapi tidak dengan cara yang diajarkan oleh beliau, sehingga pengakuan cinta atau pengagungan mereka kepada Rosululloh bertentangan dengan firman Alloh :

 

 

 

Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh ikutilah aku, niscaya Alloh akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.Ali Imron [3]:31)

Oleh karena itu, nikmat yang paling mulia sesudah Islam hanyalah nikmat untuk mengikuti sunnah Rosululloh. Ulama salaf mencontohkan kepada kita untuk mensyukuri kedua nikmat ini. Di antara mereka ada yang berkata: …………

(segala puji hanya milik Alloh atas taufiq-Nya pada Islam dan Sunnah). Oleh sebab itu, bukanlah sesuatu yang mengherankan jika ternyata banyak kaum muslimin yang terfitnah lantaran mengabaikan Sunnah Rosululloh.

Namun ini pun masih masih menyimpan pertanyaan bagi kebanyakan umat Islam, yaitu bagaimanakah kita mengikuti Sunnah Rosululloh ? Jawabnya, satu-satunya jalan untuk iltizamdan mengikuti beliau adalah mempelajari Kitab dan Sunnah.

Dan juga ternyata tidak cukup itu, karena para ulama, para da’I, dan para tokoh-tokoh dari berbagai kelompok Islam tidak lepas dari dua sumber ini (Kitab dan Sunnah).

Sesesat-sesat ahli bid’ah pasti mengaku mengikuti Kitab dan sunah, sebab bila tidak demikian telah kafir. Lihatlah sebagai contoh, kelompok Ahmadiyyah yang sudah jelas-jelas sesat; mereka tidak menolak,tidak mengingkari,dan tidak kafir terhadap ayat-ayat Alloh seperti firman-Nya:

 

 

 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antaramu tetapi dia adalah Rosulullah dan penutup para nabi-nabi…(QS.al-Ahsab [33]:40)

Mereka tetap meyakini bahwa ayat ini adalah firman Alloh yang ada dalam al-Qur’an sebagai wahyu yang dibawa jibril kepada Nabi Muhammad . Akan tetapi, mereka mentakwilnya. Kata mereka, makna dalam ayat di atas adalah cincin sebagai perhiasan tangan. Dengan pemahaman mereka yang batil ini, kemungkinan akan datang nabi-nabi yang lain sesudah beliau, di antaranya nabi palsu mereka Mirza Ghulam Ahmad.

Juga mereka menerima hadist yang shohih dan tidak menolaknya, yaitu hadist. Nabi yang beliau sampaikan kepada kepada sahabat mulia Ali Abu Tholib

 

 

 

 

Apakah engkau tidak ridlo wahai Ali untuk (perumpamaan) engkau bagiku seperti Harun bagi Musa.”(HR.Bukhori:3706/4416)

Hadist ini beliau sampaikan kepada Ali bin Abu Tholib tatkala Ali menyusul beliau di perjalanan menuju perang Tabuk. Pada saat itu Rosululloh berangkat dengan tiga puluh ribu sahabatnya dan memilih Ali bin Abu Tholib sebagai pengganti beliau di Madinah sebagaimana kebiasaan beliau setiap kali keluar dari Madinah.

Keadaan seperti ini dimanfaatkan oleh orang-orang munafik untuk mencela. Dan juga Rosululloh, kata mereka : “Muhammad memilihmu wahai Ali untuk tinggal di Madinah karena dia tidak ingin kamu mati di medan perang.”

Mendengar perkataan orang-orang munafik ini Ali tidak sabar dan segera berangkat menyusul Rosululloh untuk ikut perang Tabuk. Tatkala ia telah sampai pada Nabi, maka beliau sampaikan hadist di atas tadi padanya.

Lalu bagaimanakah orang-orang Ahmadiyah memakai hadist ini? Kata mereka, makna hadist maksudnya (tidak ada nabi yang hidup bersamaku) adapun sesudahku (Rosululloh) maka ada nabi-nabi yang lain.

Dari dua peristiwa ini (pemahaman yang batil) terhadap ayat Qur’an dan hadist Rosululloh……., kita dapat mengambil ibroh dan pelajaran besar, bahwasannya suatu kebatilan, penyimpangan, dan kesesatan dalam agama terjadi bukanlah karena menolak dalil Kitab dan Sunnah, tetapi disebutkan karena kesalahan dalam memahami dalil.

Inilah sebab yang paling mendasar yang menyebabkan kebanyakan ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu tersesat dari jalan yang haq. Jika demikian halnya, maka tidak cukup bagi kita kaum muslimin dari kelompok manapun, tidak cukup hanya dengan al-Qur’an dan Sunnah, akan tetapi perlu pemahaman yang benar terhadap keduanya.

Oleh karena itu, sebagian ulama berkata : “Wajib bagi setiap muslim untuk memenuhi tiga tauhidnya agar istiqomqh di atas Islam yaitu : tauhidulloh, tauhidurrosul, dan tauhidul fahm ; (maksudnya) mentahidkan Alloh, mentauhidkan Rosululloh dengan ittiba ; dan mentauhidkan pemahaman terhadap yang datang dari Alloh dan Rosul-Nya yakni pemahaman salafush sholih.

Artinya, seorang muslim setinggi apapun ilmunya tidak akan sanggup memahami Kitab dan Sunnah dengan sendirinya tanpa pemahaman sahabat, generasi mulia yang menerima kedua wahyu yang diterima oleh Rosulloh ….. dari jibril ….. dari Alloh ………

Oleh karena itu, kita dapati para ulama sepanjang selalu bersandar pada pemahaman salafush solih padahal seandainya mereka memahami Kitab dan Sunnah dengan sendirinya mereka pasti mampu, akan tetapi, itulah ilmu dari RosulNya yang terus-menerus diwarisi oleh para ulama sehingga setiap ulama di setiap zaman dan tempat, pendapat atau fatwa-fatwa mereka adalah sama dan tidak ada perbedaan karena berasal dari satu sumber yaitu warisan Rosululloh. Sabda beliau :

 

 

Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Bukhori: 67)

Maka kapanpun seorang ulama tidak mewarisi Rosululloh maka bukanlah ia termasuk ulama walaupun umat manusia menganggapnya sebagai ulama,

KHUTBAH KEDUA

Ayuuhal Muslimin

Mengapa kita harus kembali dan mengikuti pemahaman salaf? Jawabannya, karena mereka adalah sahabat pilihan Alloh untuk memahami Nabi-Nya, merekalah yang paling paham dengan Kitab dan Sunah. Merekalah yang dipuji oleh Alloh dan Rosulnya. Firman Alloh :

Dahulu umat di zaman Nabi Adam adalah umat yang satu, kemudian berselisih dan terulang kembali di zaman sahabat ketika mereka bersatu di atas tauhid dan manhaj yang satu.

Rosululloh memuji generasi sahabatnya dengan sabdanya :

 

 

Sebaik-baiknya generasi adalah generasiku, kemudian yang setelahnya dan kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhori : 3651).

 

Ayyuhal Mulimun …..

Jika kaum muslim menuntut dalil yang menguatkan apa yang kita yakini ini – yakni kita dan sunnah sesuai dengan pemahaman sahabat maka ia memahami ayat ini dengan sebaik-baiknya. Firman Alloh :

 

 

 

Dan barangsiapa menentang rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan kami masukan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS. An-Nisa (4); 115).

Oleh karena Al-Qur’am dan Sunnah tidak turun di zaman sekarang, di zaman perpecahan kaum muslimin, maka merupakan suatu hal yang darurat atau suatu keharusan untuk kembali pada suatu pemahaman yang menyelesaikan segala perpecahan dan permusuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: