Sang Penjaga Kebaikan

Memaksimalkan produksi? Tentunya! Tapi kalo memaksimalkan amal kebaikan dan menjaganya, apa sih maksudnya?
Umur, bagi manusia merupakan misteri yang hanya diketahui secara pasti oleh sang Khalik. Tak ada yang bisa meraba dan menduga kapan umur kita akan berakhir. Karenanya, maksimalkan diri dengan memproduksi kebaikan, selagi masih ada kesempatan.

Ada hal-hal mendasar yang patut kita lakukan agar kita dapat bisa mengoptimalkan umur dengan kebajikan. Di antaranya, bersegera menggapai ridha Allah dan mengerjakan perbuatan yang dapat mendatangkan berlipat pahala merupakan elemen penting dalam memaknai umur ini. Setelahnya, adalah selalu menjaga amal kebaikan agar tetep murni tanpa cacat bahkan hilang. Tapi sayangnya, menjaga amal baik agar tetep terus berlanjut tidaklah mudah. Ada kiat dan tips tersendiri agar amal benar-benar terjaga. Sang penjaga amal tersebut adalah:

1. Tidak melakukan keharaman, secara terang-terangan maupun sembunyi. Hindari menumpuk kebaikan laksana gunung, tapi di sisi lain kita melakukan keharaman secara sembunyi maupun terang-terangan. Karena bisa jadi amal baik yang kita perbuat tak akan bernilai jika melanggar keharaman Allah. Naudzubillah min dzalik!

2. Tidak ‘ujub dan pamer. Sikap ujub biasanya melahirkan sikap meremehkan dosa-dosa kecil dan ini yang berbahaya. Ketika sudah terjangkiti ‘ujub, kita akan memandang remehnya dosa-dosa kecil jika dibanding dengan kebajikan yang telah diperbuat. Hasilnya kita akan terbiasa melakukan dosa kecil karena menganggapnya tak mengapa. Tapi apa hakekatnya? Kita akan kehilangan amal baik selama ini.

3. Menjaga hak-hak orang lain. Hindari mendzalimi saudara-saudara kita baik menyangkut kehormatan dan hak-hak secara umum. Merampas kehormatan sodara berupa kehormatan dan materi akan menghilangkan pahala kebajikan kita , kelak. Betapa tidak? Di pengadilan Allah nanti orang yang terampas haknya akan mengambil alih pahala kebaikan sang perampas hingga hak-haknya semasa di dunia terpenuhi. Apa yang tersisa bagi kita kemudian?

4. Tidak melakukan jariyah as suu'(kejahatan yang terus mengalir). Kita sangat takut jika kita adalah perintis perbuatan yang membuahkan dosa. Karena dosa orang-orang yang mengikuti polah kita akan menjadi tanggungan kita karena telah menjadi pelopor kejelekan. Masih mending perbuatan jelek kita tak diikuti orang(meski tetep berdosa), bagaimana seandainya ratusan bahkan jutaan orang mengikuti perbuatan kita yang penuh maksiat? Tentunya semakin berat beban dosa yang kita tanggung.
Tapi meski begitu, melakukan perbuatan maksiat tetep dilarang, baik yang tidak diikuti orang lain terlebih menjadi perintis kejelekan. Karena keduanya sama-sama jelek. Waliyadzubillah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: