Ramalan itu Syirik!

Saya bisa meramalkan masa depan Anda. Silakan ketik nama dan nomor handphone Anda kirimkan ke no WXYZ.

Kurang lebih begitu sebuah iklan yang ditayangkan di televisi. Ramalan melalui SMS kini sangat marak ditampilkan dan diiklankan di berbagai media. Dengan merogoh kantong sebesar 2000 rupiah per SMS seseorang bisa mengetahui ramalan masa depannya. Tahun depan, bagaimana nasibku ya? Atau sepuluh tahun mendatang apa yang akan terjadi padaku ya? Siapa sih yang jadi jodohku kelak? Bagaimana rezekiku pekan depan? Dan beragam pertanyaan yang terkait dengan masa mendatang biasanya akan menimbulkan tanda tanya dan rasa penasaran.

Peninggalan Zaman Baheula
Masalah ramal meramal bukan sesuatu yang baru muncul belakangan. Budaya ini boleh dibilang sudah sangat kuno. Di jaman Nabi Musa, ramalan dan peramal sudah ada. Fir’aun begitu bersemangat membunuh bayi laki-laki yang lahir dikarenakan ia percaya pada nasihat peramal, ahli nujum. Demikian pula di jaman Nabi Muhammad, masyarakat jahiliyah sudah begitu kental dengan ramalan dan peramal. Misalnya ketika mereka akan bepergian ke suatu tempat yang jauh mereka pun meramal terlebih dahulu nasibnya, akan malang atau mujur. Bila diramalkan mujur maka mereka akan meneruskan rencana bepergian. Namun bila diramalkan akan malang, maka mereka pun mengurungkan perjalanannya. Dukun dan peramal pun sudah punya posisi tersendiri pada masyarakat jahiliyah kala itu.

Sarananya Beda
Di zaman dulu untuk meramal hanya diperlukan alat-alat yang sederhana. Orang Arab jahiliyah cukup memakai sarana burung untuk masalah ramal meramal. Gerakan burung ke kanan atau ke kiri jadi rujukan untuk mengetahui sukses atau gagalnya suatu aktivitas. Atau kalau tidak, mereka menggunakan panah. Orang yang minta diramal pun cukup datang sendiri ke peramal untuk menanyakan ramalan yang diinginkannya. Semakin modern tentu saja fasilitas untuk urusan ramal meramal agak berbeda dengan jaman dahulu kala. Kalau sekarang, orang bisa menanyakan ramalan dari jarak jauh, melalui media komunikasi yang ada seperti SMS, telepon, atau email. Cukup mengirim nama dan nomor HP, maka si peramal pun beraksi. Kesamaannya, keyakinan terhadap hal tersebut dan gaya meramalnya tak jauh beda. Ada yang meramal menggunakan rasi bintang, membaca telapak tangan, bola kristal dan semisalnya. Kemajuan teknologi kadang tidak seiring dengan kematangan keyakinannya. Artinya, tanpa akidah yang lurus, teknologi yang maju sekalipun tak akan mampu menciptakan manusia yang berkeyakinan lurus. Tak ketinggalan negara- negara yang katanya disebut sebagai negara maju, modern atau negara industri, dimana mereka lebih menyandarkan kepada hal-hal yang bersifat materi dan logika (akal) ternyata masyarakatnya masih ada yang lari kepada dukun dan tukang ramal. Di Indonesia apalagi. Tak terhitung para petinggi dan pejabat pemerintahan yang datang menghadap “orang pinter” dan tukang ramal baik yang pria maupun wanita, baik ke tempat praktek mereka, ataupun dalam event dan acara-acara yang disiarkan oleh berbagai media. Dan terbukti bahwa mereka yang datang rata-rata terpengaruh dan membenarkan apa saja yang diucapkan oleh sang paranormal. Di antaranya, mantan presiden AS Ronald Reagen mengangkat penasehat dari kalangan dukun dalam membantu mengurus negaranya. Di beberapa negara maju marak juga model perdukunan yang disebut dengan melihat bola kristal. Dimana sang penyihir komat-kamit mulutnya seraya membaca mantera di hadapan bola itu, lalu mendengarkan apa yang dibisikkan oleh setan, setelah itu memberitahukan bisikan setan itu kepada orang lain (pasiennya).

Seharusnya Seorang Muslim
Mendatangi peramal, meminta untuk diramal nasibnya dengan segala macam bentuk dan sarananya tetap saja sesuatu yang buruk. Teknologi canggih yang menjadi sarananya tak mengubah hukum meramal jadi boleh.
Nabi Muhammad pun pernah mengancam,

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan menanyakan sesuatu kepadanya serta membenarkan ucapannya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.” (Riwayat Muslim dan Ahmad)

Di kesempatan yang lain beliau pernah juga bersabda,

“Tidak termasuk golongan kami orang yang melakukan atau meminta tathayyur, meramal atau meminta diramalkan, menyihir atau minta disihirkan. Barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan ucapannya maka sesungguhnya dia telah ingkar dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.” (Hasan, riwayat Al Bazzar dan Thabrani)

Semua orang memang ingin untuk memperoleh kebaikan di masa depannya. Siapa sih yang ingin punya masa depan suram dan susah? Tentu tak ada. Diraihnya kebaikan dan terhindar dari kesusahan di masa depan tentu adalah cita-cita. Namun bagaimana cara untuk memperoleh itu semua? Apakah dengan meramalkan masa depan tersebut? Tidak, namun dengan cara berdoa kepada Allah yang mengatur segala sesuatu. Demikian juga berusaha dengan segenap kemampuan untuk meraih beragam kebaikan untuk masa depan. Kalaupun ternyata kita kelak menjumpai masa depan yang menyedihkan maka kewajiban kita adalah bersabar. Kalau dapat kebaikan maka bersyukur. Sederhana saja bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: