Motivasi Beramal Karena Dunia

Kaum muslimin sekalian, ikhlas adalah pokok agama dan ruhnya tauhid. Artinya seluruh ibadah yang dilakukan mutlak harus disendirikan dan ditujukan untuk mengharap wajah Alloh semata. Seorang yang ikhlas tidak menginginkan agar amalnya dilihat, didengar atau diperhatikan orang lain. Ia beramal tidak untuk kepentingan duniawi, namun ikhlas semata-mata karena Alloh. Dengan demikian, iman dan tauhid seseorang menjadi sempurna.

Hati-Hati Fitnah Dunia

Berbagai macam kenikmatan di dunia baik berupa harta, kedudukan dan lainnya merupakan ujian yang banyak menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan. Demi mencapai kenikmatan dunia seseorang bisa saja rela berbuat apapun asal keinginannya terwujud. Tujuan hidupnya seolah-olah hanya untuk mencapai kesenangan duniawi belaka. Bahkan aktivitas ibadahnya pun tidak lepas dari keinginan untuk mendapatkan kenikmatan dunia.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mensinyalir orang-orang yang seperti ini dalam firman-Nya yang artinya, “Barangsiapa yang menghendaki kenikmatan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Huud: 15-16)

Dalam ayat di atas, Alloh menjelaskan bahwa siapa saja yang menghendaki balasan duniawi dari amal ibadahnya, maka Alloh akan memberikannya di dunia ini. Akan tetapi kelak ia akan merugi di hari kiamat, ketika ia sangat membutuhkan amal ibadah. Bahkan dengan amal ibadahnya itu ia telah menjerumuskan dirinya ke dalam neraka. Balasan amal shalihnya itu telah ia rasakan di dunia, seluruhnya telah terhapus, hilang serta tidak dapat digunakan untuk menyelamatkannya pada hari kiamat.

Banyak sekali contoh bagaimana seseorang menginginkan balasan di dunia dengan amal akhirat. Misalnya, membaca Al Quran dengan tujuan untuk mencari gelar atau uang, menjadi muadzin dengan niat untuk mencari uang, berangkat haji dengan tujuan mencari kemuliaan dunia, belajar agama di perguruan tinggi semata-mata hanya untuk mendapatkan ijazah agar martabatnya naik. Termasuk juga melakukan berbagai jenis peribadatan dengan maksud menyembuhkan penyakit, supaya disenangi orang lain, supaya tidak mendapat gangguan dan lain-lain.

Celakalah Budak Harta !

Seseorang yang sangat gandrung kepada harta secara tidak sadar telah menjadikan aktivitas-aktivitas ibadahnya hanya untuk meraih harta, sehingga dia bergelar hamba/budak harta. Akibatnya dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari ibadah tersebut kecuali rasa capek. Karena itu seseorang dalam ibadahnya harus berusaha untuk ikhlas dan jauh dari motivasi dunia. Salah satu caranya adalah tidak peduli dengan pujian atau celaan manusia, selama dirinya berada di jalan Alloh.

Diriwayatkan dalam Shohih Bukhori, sahabat Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu menuturkan bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah, celakalah hamba khamilah. Jika diberi dia senang, tetapi jika tidak diberi dia marah. Celakalah dia dan tersungkurlah. Apabila terkena duri semoga tidak dapat mencabutnya. Berbahagialah seorang hamba yang memacu kudanya (berjihad di jalan Alloh) dengan rambutnya yang kusut dan kedua kakinya berlumur debu. Bila dia berada di pos penjagaan, dia akan tetap setia di pos penjagaan itu. Bila ditugaskan di garis belakang, dia akan tetap setia berada di garis belakang itu. Jika dia meminta izin (untuk menemui raja atau penguasa) tidak diperkenankan. Jika bertindak sebagai perantara tidak diterima perantaraanya.”

Dalam hadits di atas Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa sebagian orang ada yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya. Barang siapa yang demikian kondisinya, maka kesudahannya adalah kehancuran dan kehinaan. Ciri-ciri yang membeberkan sifat rakus mereka terhadap dunia adalah jika diberi dia senang, namun jika tidak diberi dia marah.

Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam telah memberinya sifat “Jika diberi dia senang, jika tidak diberi dia marah.”Hal ini sebagaimana firman Alloh yang artinya, “Dan diantara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) zakat. Jika mereka diberi sebagiannya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (At-Taubah: 58)

Ridho mereka ditujukan untuk selain Alloh dan kemarahan mereka untuk selain Alloh pula. Beginilah keadaan orang yang mengabdikan dirinya kepada hawa nafsunya. Jika ia berhasil meraihnya, maka dia bergembira dan jika tidak, maka merah padamlah mukanya. Alloh berfirman yang artinya, “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai fitnah (cobaan) dan sesungguhnya di sisi Alloh-lah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)

Sedangkan di antara manusia ada yang menjadikan ridho Alloh dan negeri akhirat sebagai tujuannya. Ia tidak berambisi mendapat kemuliaan dan popularitas. Tujuan ibadahnya hanyalah karena taat kepada Alloh dan Rasul-Nya semata. Mereka adalah orang yang tidak suka menampak-nampakkan kebagusan amalan lahiriyahnya dan bisa jadi mereka rendah dalam pandangan manusia, akan tetapi tempat kembalinya adalah surga dan baginya pahala yang baik.

Bentuk-Bentuk Beramal Karena Dunia

Amalan ibadah yang ditujukan untuk kepentingan dunia ada beberapa bentuk:
Seseorang beribadah dengan tujuan untuk dunia semata serta tidak terbetik keinginan sedikit pun untuk mendapatkan pahala di akhirat. Amalan yang demikian itu bukanlah amalan seorang mukmin karena seorang mukmin -sekalipun imannya sangat lemah- masih ada keinginan untuk mendapatkan pahala di akhirat.
Seseorang beribadah dengan niat mengharap wajah Alloh, selain itu dia juga berniat untuk dunia, sedangkan kadar kedua niat ini sama, maka meskipun ia seorang mukmin, berarti ia orang yang lemah iman, lemah tauhid dan keikhlasannya. Dan nilai amalnya pun berkurang karena keikhlasannya yang tidak sempurna.
Seseorang beribadah dengan niat hanya untuk Alloh saja dengan keikhlasan yang sempurna, kemudian dia mengambil hasil keduniaan untuk membantu amalannya dan kebaikan agamanya. Contohnya seorang mujahid yang medapatkan harta ghonimah, honor dari sekolahan (kalau dia seorang guru atau yang lain). Maka yang seperti itu tidaklah membahayakan iman dan tauhidnya, karena hatinya tidak condong kepada dunia. Tujuannya hanyalah untuk agama dan duniawi yang didapatnya sekedar untuk membantu dirinya dalam menegakkan agamanya.

Amal Sholih Yang Sirna

Beberapa fenomana berikut adalah gambaran amal sholih yang tidak membawa pahala di akhirat:
Amal sholih dengan tujuan mendapatkan pahala di dunia, seperti dengan niat agar banyak rezeki, terjaganya keluarga, awetnya pangkat dan kedudukan dan lain-lain. Artinya dia tidak menginginkan dari amal sholihnya tersebut pahala di akhirat.
Amal sholih murni karena riya’.
Amal sholih sebagai perantara mendapatkan harta. Seperti orang yang berjihad murni untuk mencari ghonimah.
Amal sholih dengan ikhlas akan tetapi dirinya masih berstatus kafir atau musyrik.

Inilah di antara bentuk-bentuk amalan yang akan sirna dan tidak memberikan manfaat di akhirat kelak bagi pelakunya. Amalan yang hanya akan diterima oleh Alloh adalah amalan ikhlas karena-Nya semata dan tidak ditujukan untuk selain-Nya. Oleh karena itu, marilah senantiasa kita memperbaiki niat kita dalam setiap aktivitas ibadah untuk Alloh semata. Hanya kepada Alloh saja tempat kembalinya setiap perbuatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: