Jagalah Lisan, Kau Selamat!

 

Siapa yang tak tahu pedang atau silet atau pisau atau gergaji atau apalah yang tajam-tajam? Saya yakin semua mengetahuinya. Fungsi alat-alat tajam tersebut bermacam-macam tergantung siapa orangnya yang memakai. Ibu-ibu menggunakannya untuk merajang-rajang masakan di dapur dan itu pasti, kalau pisau itu dipakai oleh penjahat tentunya akan digunakan untuk melukai korban dan itu pasti. Mengapa mereka menggunakan pisau kok tidak pake yang lainnya? Ya karena pisau itu tajem cocok dan efektif. Sekarang saya mau nanya siapa di antara kita yang pernah terkena sayatan benda tajam apakah itu silet atau yang lainnya? Dan saya juga mau nanya gimana rasanya ya? Sakit apa sakit? Seramnya, ada lho sesuatu yang lebih tajam dari itu semua, apa itu? Tiada lain yakni bahaya lisan.

Merupakan salah satu hobi yang digemari masyakat Indonesia, baik itu anak-anak maupun orang tua, laki-laki maupun wanita, penarik becak maupun pedagang, pelajar maupun pegawai. Pokoknya segala lapisan gemar canda.

Saking tersebarnya kegemaran dan hobi canda ini di masyarakat Indonesia Raya, sampai-sampai dijadikan profesi oleh sebagian orang. Nah, muncullah di sana grup-grup lawak dan banyolan, ludruk, kelompok musik humor yang mana haramnya musik telah dijelaskan oleh Nabi dalam sabdanya: “Akan ada di antara umatku ini suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan musik”. (HR Bukhari. Lihat perincian masalah ini dalam Tahrim Alat Ath-Thorb karya Syaikh Al-Albany –rahimahullah-), pantomim, film-film humor, promosi dan media massa yang dihiasi dengan humor. Bukan cuma lewat media audio-visual, bahkan juga lewat karya tulis, dan buku-buku. Lebih ironisnya lagi kegemaran bercanda ini digunakan oleh sebagian kyai dan ustadz untuk menarik massa, pemanis retorika dalam berceramah dan berkhutbah sehingga menjadi ciri khas bagi dirinya. Tak heran jika disana ada sebagian pelawak dan artis jadi ustadz padahal ia tak pernah belajar agama sebelumnya. Cuma dengan modal bisa baca Al-Qur’an terjemahan dan pandai menarik hati dengan leluconnya, jadilah ia seorang ustadz.

Namun sangat disayangkan jika kegemaran terus menerus bercanda dan humor ini juga merasuk dan menjalar di kalangan kaum santri (baca: thullabul ‘ilm), dan kyai yang merupakan panutan dan suri tauladan umat. Jika panutan adalah seorang yang kerjanya humor melulu dan bercanda, maka bagaimana lagi nasib pengikutnya. Ini merupakan pemandangan yang amat menyedihkan dan memprihatinkan.

Lantas apakah komentar Islam tentang humor dan bercanda. Apakah hukumnya haram ataukah di sana ada keringanan pada kondisi-kondisi tertentu seseorang dibolehkan bercanda? Jawabnya, silahkan ikuti pembahasan berikut:

Bercanda merupakan sesuatu yang disenangi oleh jiwa manusia sebagaimana halnya makan dan minum. Oleh karenanya, syari’at Islam yang sempurna ini datang untuk menjelaskan hukum bercanda. Rasulullah telah menjelaskan hukumnya, baik dengan ucapan beliau, maupun dengan perbuatan beliau, sebagaimana yang kita dapatkan dalam banyak hadits.

Anas bin Malik berkata: “Rasulullah adalah orang yang paling bagus akhlaknya. Dulu aku punya adik kecil yang bernama Abu Umair –periwayat hadits berkata: Aku kira Anas berkata: “Dia sudah disapih”- lantas Anas berkata: “Jika Rasulullah datang kemudian melihatnya, beliau berkata: “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan si Nughair“. Anas berkata: “Dia (Abu Umair) sedang bermain dengannya. (HR.Al-Bukhari (5778), Muslim (2151) dan Ibnu Hibban (109). Nughoir: nama burung.)

Imam Abu Hatim Al-Busty –rahimahullah- menarik kesimpulan dari hadits ini: “Bolehnya Bagi Seseorang Untuk Menanyakan Sesuatu -padahal ia tahu- jika itu dalam rangka bercanda”. (Lihat Shohih Ibnu Hibban (1/312))

 

Abu Darda’ berkata: Rasulullah bersabda:

Bermain-main itu hanya ada dalam tiga perkara: Melatih kudamu, membidikkan panahmu, dan bercanda dengan keluargamu” (Lihat Ash-Shohihah (315) oleh Al-Albany)

Nabi adalah sosok terbaik dalam menerapkan perintah dan tuntunan Allah. Sekalipun beliau pernah bercanda, namun canda bukanlah kebiasaan rutinnya, apalagi jadi profesinya. Silakan dengarkan sahabat Jabir bin Samurah bertutur dalam menggambarkan pribadi dan akhlak Nabi : “Beliau banyak diam dan sedikit tertawa”. (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/88) dan dishahihkan Al-Albany dalam Shahih Al-Jami (4822) )

Dan kini akan kami bawakan salah satu bentuk canda dan humor yang paling berbahaya beserta dalilnya:

  • Menyinggung Allah, Rasul-Nya dan syari’at-Nya

Di antara musibah terbesar yang banyak melanda umat manusia, dari dulu sampai sekarang. Yaitu menghina dan menyinggung Allah, para Rasul-Nya dan syari’at yang dibawa oleh mereka, karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya.

Suatu hal amat ironis jika ada seorang yang menghina Tuhannya sebagaimana yang dilakukan Yahudi. Mereka telah menyatakan: “Sesungguhnya Allah itu fakir” atau “Tangan Allah terbelenggu”.

Adapun kisah-kisah ejekan mereka kepada para Rasul dan Nabi serta akibat yang mereka terima dari ejekan tersebut, telah banyak diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an agar menjadi ibrah (pelajaran) bagi orang-orang yang datang kemudian.

Sebagian orang ada yang biasa mengejek orang-orang yang belajar agama seraya berkata: “Tak ada gunanya kamu belajar agama. Coba lihat orang yang belajar, tak ada di antara mereka yang kaya, semuanya kere dan miskin. Modelnya juga kayak orang kampungan dan bodoh-bodoh”.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah- berkata: “Barang siapa yang mengolok-olok suatu (ajaran) dari agama Rasul, atau pahalanya, atau siksaannya, maka sungguh ia telah kafir berdasarkan firman-Nya:

“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman” (QS.At-Taubah : 65-66).” (Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah (1/131) )

Inilah sebagian canda dan humor yang dilarang dalam Islam, sengaja kami sampaikan di hadapan ikhwah sekalian agar kita bisa mengenal dan menjauhinya. Sebab berapa banyak orang masuk dalam neraka cuma karena salah dalam mengucapkan sesuatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: