Nasihat Syaikh Abdul Aziz Ibn Baaz rahimahullah

qubaa 

Ditulis Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَمَّا بَعْدُ :

Sesungguhnya tidak diragukan lagi oleh setiap manusia yang berakal, bahwa suatu umat harus memiliki pembimbing yang menuntunnya menuju kebenaran. Dan umat Muhammad merupakan umat terbaik, umat yang paling berhak untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar dan menyeru kepada kebaikan, untuk mengikuti panutan mereka, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini menjadi penyebab kebahagiaan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, setiap muslim wajib menyiapkan diri untuk memberikan nasihat, pengarahan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, dia terbebas dari kewajiban, sedangkan orang lain bisa mendapatkan petunjuk dengan perantaraannya. Allah berfirman :

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ (٥٥)

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa’at bagi orang-orang yang beriman. (QS adz-Dzariyat/51:55)
Sesuatu yang pasti, bahwa setiap manusia sangat membutuhkan peringatan tentang hak Allah, hak hamba dan motivasi untuk melaksanakan semua hak-hak tersebut. Setiap manusia membutuhkan untuk saling nasihat-menasihati dengan kebenaran dan
al haq. Allah telah menjelaskan dalam kitab-Nya tentang sifat orang-orang yang beruntung dan amal perbuatan mereka yang terpuji. Allah juga memberitahukan sifat orang-orang yang merugi beserta penjelasan tentang amal perbuatan mereka yang tercela.

Penjelasan ini banyak didapatkan dalam ayat-ayat al Qur`an. Yang paling lengkap, yaitu penjelasan Allah Ta’ala dalam surat al ‘Ashr.
Allah Ta’ala :

وَالْعَصْرِ (١)إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢)إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat- menasihati supaya mentaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS al ‘Ashr/103: 1-3)

Dalam surat yang pendek ini, Allah telah menjelaskan kepada para hamba-Nya tentang sebab-sebab keberuntungan. Sebab-sebab itu terangkum dalam empat point, yaitu: Pertama, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kedua, beramal shalih. Ketiga, saling memberi nasihat dengan kebenaran. Keempat, saling memberi nasihat dengan kesabaran.

Barangsiapa memiliki empat faktor ini dengan sempurna, maka dia akan mendapatkan keberuntungan yang amat besar, berhak mendapatkan kemuliaan dari Allah Ta’ala. Dan pada hari Kiamat, dia mendapatkan kenikmatan abadi. Sebaliknya, orang yag menentang sifat-sifat ini dan tidak mau berakhlak dengannya, maka dia sangat merugi dan tempat kembalinya ialah neraka Jahim.

Allah Ta’ala telah menjelaskan sifat orang-orang beruntung dalam kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala menjelaskan macam-macamnya. Dan penjelasan-Nya diulang beberapa kali di pelbagai tempat dalam al Qur`an, supaya bisa diketahui oleh orang yang ingin selamat; lalu ia bisa berakhlak dan mendakwahkannya.

Allah Tabaraka wa Ta’ala juga telah menjelaskan sifat orang-orang yang merugi dalam banyak ayat, agar sifat-sifat itu diketahui oleh kaum Mukminin, (yang) selanjutnya dijauhi. Siapa saja yang merenungkan al Qur`an dan sering membacanya, dia akan bisa mengetahui secara detail sifat orang-orang yang beruntung dan merugi. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam banyak ayat, di antaranya adalah ayat di atas. Di antaranya juga firman Allah ‘Azza wa jalla :

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal shalih, bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (QS al Isra`/17:9).

Firman Allah Ta’ala :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ (٢٩)

Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran bisa mendapatkan pelajaran. (QS Shad/38 : 29).

Firman Allah Ta’ala :

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (١٥٥)

Dan al Qur`an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat, (QS al An’am/6:155).

Terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Orang yang terbaik di antara kalian, yaitu orang yang mempelajari dan mengajarkan al Qur`an.

Dalam khutbahnya di hadapan para pemimpin syuhada’ pada hari ‘Arafah saat haji Wada`, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمْ مَا لَمْ تَضِلُّوا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللهِ

Aku tinggalkan sesuatu di tengah-tengah kalian; kalian tidak akan tersesat, selama kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitab Allah.

Dalam ayat-ayat di atas, Allah Ta’ala menjelaskan tujuan diturunkannya al Qur`an. Yaitu supaya para hamba merenungi, mempelajari, mengikutinya dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menempuh faktor-faktor kebahagiaan, kemuliaan dan keselamatan dunia dan akhirat. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan petunjuk agar para hamba mempelajari dan mengajarkan al Qur`an. Rasulullah menjelaskan, orang terbaik ialah Ahlul Qur`an. Maksudnya, orang yang mempelajari dan mengajarkan al Qur`an kepada orang lain untuk diamalkan, diikuti, berhukum dengannya, dan tidak melanggar batasan-batasannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan di hadapan khalayak pada hari ‘Arafah. Bahwasanya mereka tidak akan tersesat, selama berpegang dengan Kitab Allah dan berjalan di atas syari’atnya. Saat para salafush-shalih; generasi awal umat ini istiqamah di atas tuntunan al Qur`an dan mengikuti perihidup Rasulullah, maka Allah memberikan kemulian kepada mereka, mengangkat derajat mereka dan memberikan kekuasaan kepada mereka di muka bumi. (Yakni) sebagai bukti dari janji Allah dalam firman-Nya, yang artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. (QS an-Nur/24:55).
Dan firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (٧)

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad/47:7).
Firman Allah Ta’ala :

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (٤٠)الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ (٤١)

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya; Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa; (Yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS al Hajj/22 : 40-41)
Wahai, kaum Muslimin!
Renungilah kitab Rabb kalian! Seringlah membacanya! Laksanakan perintah-perintah yang ada padanya, dan jauhilah larangan-larangan yang tertera di dalamnya! Kenalilah akhlak-akhlak dan amal perbuatan yang dipuji oleh al Qur`an. Bergegaslah untuk melaksanakannya, dan hiasilah diri kalian dengan akhlak tersebut!

Kenalilah akhlak-akhlak dan amal perbuatan yang dicela al Qur`an; dan pelakunya diancam (dengan ancaman siksa, Red.). Waspadailah dan jauhilah!

Saling nasihat-menasihatilah di antara kalian, serta bersabarlah sampai kematianmu. Dengan melaksanakan semua itu, berarti kalian berhak mendapatkan kemuliaan dari Allah Ta’ala , mendapatkan keselamatan, kebahagiaan dan kejayaan di dunia dan akhirat.

Di antara kewajiban yang terpenting bagi seorang muslim, yaitu kewajiban memperhatikan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berusaha memahaminya dan berjalan di atasnya. Karena Sunnah merupakan wahyu kedua, penjelas bagi al Qur`an Kitabullah, dan menunjukkan makna yang terkadang belum difahami. Sebagaimana firman Allah dalam al Qur`an:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ </span>(٤٤)

Dan Kami turunkan kepadamu al Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan, (QS an-Nahl/16 : 44)
Firman Allah Ta’ala :

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (٨٩)

Dan Kami turunkan kepadamu al Kitab (al Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu, petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri. (QS an-Nahl/16 : 89).
Firman Allah Ta’ala :

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al Kitab (al Qur`an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS an-Nahl/16 : 64)
Allah berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. (QS al Ahzab/33 : 21)
Allah berfirman :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. (QS an-Nur/24 : 63)

Ayat-ayat yang menunjukkan kewajiban mengikuti Sunnah, mengagungkannya, berpegang teguh dengannya, peringatan agar tidak menyimpang darinya atau meremehkannya, sangatlah banyak. Ayat-ayat ini bisa diketahui oleh orang-orang yang merenungi al Qur`an dan memahami hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada kebaikan, kebahagiaan, kejayaan, kemuliaan, keselamatan dunia dan akhirat bagi seorang hamba, kecuali dengan mengikuti, mengagungkan dan saling berwasiat dengan al Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala keadaan, serta bersabar dalam melakukan hal itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala , yang artinya: Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (QS al Anfal/8 : 24).
Firman Allah Ta’ala:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٩٧)

Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS an-Nahl/16 : 97)
Firman Allah Ta’ala :

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَعْلَمُونَ (٨)

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS al Munafiqun/63 : 8)

Dalam ayat-ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala memberikan petunjuk bahwa kehidupan yang baik, tenang serta kejayaan hakiki, hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang menjawab seruan Allah dan Rasul-Nya lalu (mereka) beristiqamah, baik dengan tutur kata maupun dengan amalan nyata. Sedangkan orang-orang yang berpaling dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, disibukkan dengan yang lain, maka dia senantiasa menderita, gelisah dan kehidupan yang susah, meskipun memiliki dunia seluruhnya. Kemudian dia akan pindah ke adzab yang lebih menakutkan yaitu adzab neraka. Iyadzan billah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala , yang artinya: Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima nafkah-nafkah mereka, melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya; dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas; dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia, dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS at-Taubah/9 : 54-55)
Firman Allah Ta’ala :

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى (١٢٣)وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤)

Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS Thaha/20 : 123-124)
Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (١٣)وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ (١٤)

Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti, benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. (QS al Infithar/82 : 13-14)

Sebagian ahli tafsir mengatakan, sesungguhnya ayat ini umum yaitu meliputi keadaan abrar (orang-orang yang sering melakukan kebaikan) dan fujjar (orang-orang yang sering melakukan keburukan), di dunia dan akhirat.

Seorang mukmin akan berada dalam kenikmatan ketika di dunia, kubur dan akhirat, meskipun di dunia dia tertimpa berbagai macam musibah, seperti: miskin, sakit dan lain sebagainya. Sedangkan orang fajir, akan tetap dalam jahim (maksudnya, tetap dalam penderitaan) di dunia, kubur dan akhirat, meskipun dia sudah berhasil menggapai berbagai kenikmatan dunia. (yang semu, Pent.)

Namun itu semua bukanlah kenikmatan hakiki; karena kenikmatan hakiki ialah kesenangan dan ketenangan hati. Seorang mukmin itu dadanya lapang, hati dan perasaannya tenang disebabkan karena keimannya kepada Allah, tawakkalnya, ketaatannya dan keyakinannya terhadap kebenaran janji Allah Ta’ala.

Sebaliknya orang fajir, disebabkan karena hatinya yang sakit, kebodohannya, keragu-raguannya, berpalingnya dari Allah Ta’ala , hatinya terpecah dengan pernik-pernik dunia dan syahwat, maka dia akan selalu menderita, gelisah dan kelesuan. Akan tetapi, gejolak hawa nafsu dan syahwat, mengakibatkan akalnya menjadi tertutup, tidak bisa memikirkan dan tidak bisa merasakannya.

Wahai kaum muslimin!

Sadarilah tujuan asasi kalian diciptakan. Yaitu untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dan mentaati-Nya! Pahamilah, dan istiqamahlah di atas jalan itu sampai datang kematianmu. Dengan demikian, kalian akan beruntung dengan mendapatkan kenikmatan abadi dan terhindar dari Neraka Jahim.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Fusshilat/41: 30-32)
Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (١٣)أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٤)

Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS al Ahqaf/46 : 13-14)

Akhirnya, hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon, supaya kami dan seluruh kaum Muslimin dijadikan sebagai bagian dari mereka yang disebutkan dalam ayat di atas, dan melindungi kita dari keburukan jiwa-jiwa dan amal perbuatan kita. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(Diangkat dari Mukhtarat min Kitab Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah, halaman 496-501)

Tag: ,

2 Tanggapan to “Nasihat Syaikh Abdul Aziz Ibn Baaz rahimahullah”

  1. salafymuda Says:

    Semoga Bermanfaat. Berbicara tentang masalah cinta memang tidak akan pernah ada habisnya. Satu hal yang terlihat sederhana, namun dalam aplikasinya memiliki keruwetan yang luas biasa. Yah, itulah cinta. Banyak kalangan berbicara dan mencoba mendefinisikan tentang makna cinta itu sendiri. Dengan segala dasar pemikiran dan latar belakang yang berbeda, tentu akan definisi yang dihasilkan akan berbeda pula. Berbagai argumen telah dikemukakan, bermacam analisis pun juga telah diupayakan. Namun, kembali lagi, cinta tetap sesuatu yang susah untuk didefinisikan. Sehingga sampai sekarang, tidak ada satu definisi cinta yang disepakati oleh seluruh manusia. Suatu hal yang wajar menurut saya, karena cinta itu tidak dapat dikatakan, namun hanya dapat dirasakan.

    Sebagian orang telah berhasil melabuhkan cintanya kepada mahligai pernikahan. Mungkin mereka akan tahu bagaimana keindahan cinta itu sendiri -meski harus diakui tidak ada standar yang pasti tentang makna keindahan itu sendiri. Walau secara jujur harus kita katakan bahwa cinta juga selalu memiliki sisi yang membuat emosi negatif seseorang bergejolak, namun itu adalah hal yang wajar dan terlalu lumrah. Itu yang saya rasakan. Pernikahan tanpa sesuatu yang membuat perasaan nggak enak bukanlah sebuah pernikahan, namun lebih berupa mimpi belaka. Istilah Bunda saya, pernikahan tanpa masalah seperti mobil tak beroda. Nggak bisa jalan. Sehingga cepat atau lambat, mereka akan terpaku di tempat dan perlahan karam ditelan ombak kehidupan. Suatu hal yang tentu saja tidak pernah diinginkan oleh setiap pasangan yang menikah.

    Sedangkan sebagian orang lainnya, yaitu mereka yang “gagal” melabuhkan cinta, tentu akan memiliki ekspresi yang berbeda. Ada yang marah setengah mati, ada yang menjadi dendam seumur hidup, ada yang menjadikan racun serangga sebagai pelarian, ada yang lebih senang menggantung di pohon dengan leher terikat, ada yang mendadak hobi lompat bebas dari ketinggian, bahkan sampai ada yang memilih untuk hidup melajang sepanjang usia ketika pujaan hati tak dapat teraih. Wuih…

    Pada kesempatan kali ini saya tidak ingin membahas tentang keindahan cinta dalam pernikahan. Selain karena saya sendiri belum mengerti seperti apa dan bagaimana keindahan pernikahan itu, juga saya rasa sudah sangat banyak buku yang membahas masalah tersebut. Karena itu saya ingin sedikit membicarakan tentang hal yang kedua, yaitu bagaimana merasa sukses dengan kegagalan dalam melabuhkan cinta. Sesuatu yang paradoks bukan? Seperti dalam dunia programmer, di mana antara kenyamanan dan keamanan adalah sesuatu yang pasti akan selalu berlawanan. Namun meski demikian, bukan berarti tidak dapat didamaikan alias diminimalisir, apalagi disandingkan secara sejajar.

    Secara normal, tentu kita sepakat bahwa tidak ada seorang pun yang ingin merasakan emosi negatif berupa sedih, sakit hati, kecewa, marah, dan lain sebagainya. Namun, hidup bukanlah sebuah jalan yang lurus tanpa hambatan. Banyak duri, kerikil, dan lubang yang siap menjegal kaki jika tidak hati-hati dalam melangkah. Jangankan dalam berinteraksi dengan manusia lain, terkadang emosi negatif itu sendiri bisa muncul akibat perilaku kita sendiri yang tidak tepat.

    Kembali ke laptop; alias ke pokok pembahasan. Dinamika cinta itu hanya akan berujung pada dua hal, diterima (sukses) dan ditolak (gagal). Sebenarnya kedua-duanya adalah hal yang sama-sama baik dan positif, hanya saja ketidakmampuan kita dalam mengelolanya itu yang terkadang mengakibatkan munculnya perasaan negatif itu.

    Saya teringat sebuah kisah tentang seorang ikhwan –di antara sekian banyak ikhwan- yang juga pernah mengalami dan merasakan pahitnya “kegagalan”. Panggil saja dia dengan AN. Saya tahu persis bagaimana besarnya perasaan AN kepada si akhwat. Seandainya ada satu kata yang bisa menggambarkan bagaimana bentuk dan besarnya perasaan itu, tentu mungkin telah dia ungkapkan. Saya rasa, kata cinta, masih belum mampu mencakup bagaimana bentuk perasaannya tersebut.

    Sekian lama perasaan itu terus dipendam sembari terus berharap suatu saat ia berani untuk mewujudkan cintanya itu dengan menikahi si akhwat tersebut. Setahun lebih ia tetap berkutat dalam kesendiriannya itu untuk menjadi seorang pendamba saja. Hanya lewat tulisan-tulisan maupun curhat-curhat dengan sahabat-sahabatnya saja ia mengekspresikan perasaannya itu. Bahkan sampai ia bekerja di sebuah institusi pemerintah di luar daerah pun, perasaan itu tetap kokoh menghunjam dalam hatinya. Tapi, lagi-lagi ia hanya sanggup menjadi seorang pendamba.

    Namun suatu hari, dengan keberanian –lebih tepatnya nekad-, ia tiba-tiba saja mengutarakan niatnya kepada si akhwat, meski dengan hanya sebuah bahasa isyarat. Namun, taqdir berkata lain. “Afwan akh, ana telah ada pilihan yang lain. Ana mencintainya, dan dia pun mencintai ana. Insya Allah kami tinggal menunggu waktu saja. Semoga anta segera mendapatkan bidadari yang anta harapkan.” Demikianlah kira-kira ucapan si akhwat tersebut. Si ikhwan pun ditolak.

    Jujur, saya bisa menangkap dan merasakan bagaimana sakit dan bahkan kecewanya ia. Namun, entah mengapa, saya tidak melihat ada sebuah beban atau rasa sakit yang terpancar pada wajahnya. Bahkan sebaliknya, senyuman dan ucapan syukur senantiasa ia ucapkan. Benar-benar suatu hal yang aneh menurut saya.

    Maka, saya mencoba menanyakan hal ini kepada AN. Dengan tenang ia menjawab, “Alhamdulillaah akh… Ana nggak apa-apa kok. Kalau dibilang sakit, ya sedikit. Kalo dibilang kecewa yang pastilah ada. Tapi kembali lagi, ana sangat bersyukur dengan semua ini. Mungkin agak aneh ya, dapat sesuatu yang agak menyakitkan kok bersyukur… Sebenarnya, pertama, ana bersyukur karena ana telah behasil menyampaikan keinginan ana untuk menikahi dia. Anta tahu kan, ana dari dulu paling nggak berdaya kalo berhadapan ma dia. Kedua, ana bersyukur karena hati ana sangat lega udah dapat jawaban, meski jawabannya nggak sesuai dengan yang ana harapkan. Ketiga, ana bersyukur karena Allah udah membuat ana mencintai dia, dan ini jarang-jarang lho akh, ana bisa kayak gini. Keempat, ana bersyukur karena ternyata dia bisa bahagia, meski bukan dengan dan karena ana.”

    “Maksudnya?”, tanya saya. Dia menjawab, “Ana mencintai dan ingin menikahinya karena ana ingin membahagiakannya. Tetapi, jika ternyata tanpa ana ia bisa merasa bahagia, kenapa ana harus bersedih? Ana memang sudah berniat dalam hati untuk berusaha membuatnya bahagia dengan cara apapan. Dan mungkin salah satunya dengan merelakan ia bersama ikhwan pilihannya itu. Dan saya bisa menangkap sekaligus merasakan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini dengan ikhwan pilihannya tersebut. Jadi kenapa ana harus khawatir… Sekali lagi ana tegaskan, bahwa ana mencintainya bukan karena ana ingin memilikinya, namun semata-mata ingin membuatnya bahagia. Jika ternyata saat ini ia bisa merasakan kebahagiaan, maka berarti keinginan ana sudah tercapai bukan…?”

    Saya bertanya lagi, “Anta tidak sakit hati atau kecewa gitu…?”. Dengan kembali tersenyum dia menjawab, “Sedikit sih. Tapi saya memang sudah siap untuk sakit hati atau kecewa. Karena cinta itu hanya bermuara pada dua pilihan, iya atau tidak. Diterima atau ditolak. Kalu nggak siap ditolak, ya nggak usah nembak. Kalo nggak siap sakit hati, ya nggak usah nikah. Kita kan nggak pernah tahu apa yang akan kita hadapi, jadi coba saja. Apapun hasilnya yang penting kita sudah berusaha. Saya bahagia kok ditolak, seperti saya bahagia jika seandainya saya diterima.”

    “Yach, kegagalan adalah awal dari keberhasilan akh…”, kata saya. Sambil kembali tersenyum dia berkata, “Alhamdulillaah ana gak ngerasa gagal akh. Ana justru merasa telah berhasil.” “Maksudnya?”, Tanya saya yang memang bingung. Kembali tersenyum dia berkata, “Ya, setidaknya ana telah berhasil dalam 2 hal. Pertama, ana berhasil jujur pada diri ana pribadi dan juga padanya, bahwa ana memang benar-benar memiliki niat yang tulus dan serius padanya. Kedua, ana telah berhasil membuat dia bahagia dengan merelakannya bersama dengan orang yang dia cintai.”

    “Anta aneh…!!!”, ujar saya. Sambil tersenyum dia berkata, “Cinta memang sangat aneh akh. Mungkin sudah saatnya kita harus sedikit merubah paradigma berpikir kita. Cinta itu bukan untuk memiliki, tapi untuk membahagiakan. Jika kita mencintai untuk memiliki, maka kita mencintainya seperti cinta seorang diktator, yang akan melakukan segala cara untuk memilikinya sehingga cenderung bersikap egois dan mengekang. Jika kita mencintai untuk membahagiakannya, maka kita mencintainya seperti cinta orang tua, yang akan melakukan segala cara untuk membuatnya merasa nyaman dan bahagia, meski mungkin ia tidak sadar dan tidak mengakui cinta kita.”

    “Ana tambah pusing… Trus apa ini artinya anta sudah berhenti untuk mengejarnya?”, tanya saya kemudian. Dia menjawab, “Untuk mengejarnya mungkin iya akh. Tapi untuk berharap, ana masih belum berpikir untuk berhenti. Karena ana sangat ingin dia bahagia karena kerja keras ana akh, bukan karena keringat orang lain. Yach, paling tidak sampai kenyataan berkata bahwa ana udah tidak punya peluang lagi…”

    Saya memang tidak sepenuhnya mampu mencerna bagaimana jalan pikiran teman saya itu. Tapi paling tidak, saya bisa melihat niat tulus dan besarnya cinta yang ia miliki pada si akhwat itu. Tapi, seperti yang ia bilang, cinta itu hanya bermuara pada dua hal, diterima atau ditolak. Bahagia atau sengsara. Keduanya adalah dua hal yang berbeda, namun mempunyai esensi yang sama.

    Pusing ya…? Sama…! Namun, ada satu pesan yang bisa saya maknai dari kisah sahabat saya tersebut, bahwa :

    “Cinta adalah bagaimana engkau membahagiakan orang yang engkau cintai. Dengan begitulah engkau merasa bahagia, dan dengan begitulah engkau mencintainya.

    Cinta adalah bagaimana engkau bahagia saat orang yang engkau cintai merasa bahagia. Dengan begitulah engkau merasa bahagia, dan dengan begitulah engkau mencintainya.”

    Namun, apa pun persepsi Anda tentang cnta, atau bahkan tenatng sahabat saya tersebut, bahwa kenyataannya memang beginilah cinta. Tidka ada satu katapun -saya rasa- yang dapat menggambarkan dan mengejawantahkan kata yang penuh misteri ini.

  2. maula Says:

    Afwan, gimana kalo blognya jangan mepet-mepet banget gitu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: