Ari-Ari Bayi Jangan Bikin Syirik!

lSeorang bayi mungil nan lucu akan lahir ke dunia nan fana ini. Sang Ibu berusaha mati-matian untuk melahirkan si buah hati, sedangkan sang ayah harap-harap cemas menunggu di balik pintu persalinan. Akhirnya berkat pertolongan Allah, lahirlah seorang bayi kecil tak berdaya dengan plasenta yang masih terbuai keluar. Sang bidan segera merawat bayi tersebut.

Hal tersebut senantiasa kita dapati di rumah bersalin. Si bayi yang masih merah, merengek dan menangis. Biasanya ari-ari bayi tersebut akan dipotong menunggu beberapa hari setelah kelahirannya. Di banyak kampung pelosok-pelosok negeri Indonesia ini, selalu kita dapati bahkan pernah kita alami sendiri sewaktu kita dilahirkan. Yakni kalau dulu kita dilahirkan dengan bantuan dukun bayi. Si dukun bayi itu memang secara penampilan dan proses kerja jelas berbeda dengan sang bidan yang modern dan hieginis. Si dukun bayi masih menggunakan cara-cara tradisional dan alami, bahkan tak jarang ada pula yang menggunakan cara-cara yang berbau syirik. Seperti halnya di pulau jawa, khususnya Jawa tengah. Sebuah fenomena yang mengiris hati. Syirik kerapkali dijadikan cara mereka. Setelah si bayi lahir, ari-ari atau plasenta langsung dipotong kemudian dimasukkan ke dalam toples tanah liat atau yang sejenisnya. Setelah semua beres, ari-ari tersebut digantung di atap rumah, kemudian si dukun berpetuah kepada orangtua bayi agar menjaga gantungan ari-ari tersebut supaya terjaga, sebab menurut keyakinan setempat apabila sampai rusak akan sial dan celaka.

Masya Allah! Ternyata banyak di antara mereka yang menganggap keselamatan dan kesialan datang dari selain Allah. Sesungguhnya islam melarang perbuatan semacam ini, sebab islam menempatkan akal pada tempatnya. Allah adalah Pencipta alam semesta, Dia lah yang mengetahui segalanya, Dia lah yang memberikan keselamatan maupun kecelakaan bagi yang dikehendaki-Nya. Tak ada seorang pun yang dapat memberi keselamatan bagi seseorang jika Allah menghendaki baginya kecelakaan, dan tak ada seorang pun yang mampu menimpakan kecelakaan bagi seseorang tatkala Allah berkehendak memberikan baginya keselamatan. Jika seseorang bertindak aneh dan percaya khurafat maka ia telah mengajak orang lain untuk menertawakan dirinya.

Seseorang apabila meyakini bahwasanya jimat-jimat atau burung-burung hantu dan semacamnya sebagai sebab datangnya musibah maka ia telah terjerumus ke dalam lembah syirik ashghar yang mana dosanya sangat besar melebihi dosa zina dan dosa besar lainnya, lantas bagaimana halnya jikalau seseorang punya keyakinan bahwa jimat dll adalah sumber dan pusatnya manfaat atau kesialan segala-galanya di dunia ini? Bukankah itu syirik akbar yang mengeluarkan dari islam, pelakunya kekal di neraka bila belum bertaubat sebelum wafat, semua amalan salehnya terhapus? Nas-alu Allaha as-salaamah wan najaah min kulli fitnah…

Adat ini bak akar pohon yang telah menancap kuat pada tanah. Sulit dibasmi dalam sekejap mata. Ari-ari harus digantung di atap rumah agar selamat merupakan sebuah keharusan yang tak berdasar sama sekali, akal pun menentangnya. Mengapa dikatakan harus? Nah, itulah akar masalahnya, seandainya kita gantung di atap rumah tanpa adanya unsur keyakinan batil seperti itu, maka tidak masalah. Cara yang terbaik menurut saya pribadi ialah dikubur saja, selain tidak menyebabkan bau amis dan kotor kan bisa lebih selamat dari budaya aneh itu. Sebab, kita khawatirkan masyarakat pada umumnya akan menduga bahwa perbuatan kita dengan menggantungnya di atap merupakan partisipasi terhadap adat aneh itu. Lebih baik jangan digantung, khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Allah berfirman:
“Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaknya ia beramal saleh dan jangan melakukan kesyirikan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan seorangpun.” (QS.AlKahfi:110).
Allah juga berfirman:
“Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakal jika benar-benar kamu orang-orang beriman.” (QS.Al Maidah:23)
Tawakal berarti menyandarkan segala urusan kepada-Nya semata baik itu urusan yang mendatangkan keuntungan maupun yang mengakibatkan kerugian atau madharat.
Merujuk kepada dalil-dalil dari al-Qur’an dan al-Hadits kita bisa menemukan bahwa syarat pokok diterimanya amalan seorang hamba ada dua:

  1. Ikhlas karena Allah.

  2. Mengikuti tuntunan Rasulullah.

Banyak kalangan awam yang menganggap bahwa acara seperti ini termasuk kebaikan bahkan tak jarang banyak juga yang melakukannya sebagai bentuk taqarrub kepada Allah. Menginginkan anak cerdas dan sehat menjadi faktor pendorong melakukan adat ini. Lagi-lagi sesuatu yang tidak masuk akal. Belum cukupkah islam mengajarkan bagaimana mendambakan buah hati nan saleh, cerdas dan sehat? Belum sempurnakah ajaran islam kepada ummatnya?

Rasulullah telah menjelaskan kepada kita tata cara aqiqah bagi sang buah hati, belum cukupkah? Sudah saatnya kita sebagai seorang muslim untuk mengisi lembaran hidup yang sesuai dengan ajaran islam, tinggalkanlah budaya jahiliyyah dan jangan gali lagi setelah sekian lama kita kubur dalam-dalam. Sekian. (Maula)

Satu Tanggapan to “Ari-Ari Bayi Jangan Bikin Syirik!”

  1. salafymuda Says:

    Alhamdulillah dengan adanya tulisan ini, moga bermanfaat buat ibu-ibu yg sedang punya anak terutama, syukron!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: